Kamis, 20 Agustus 2026

5 Kesalahan Guru Saat Membuat Soal HOTS

5 Kesalahan Guru Saat Membuat Soal HOTS

5 Kesalahan Guru Saat Membuat Soal HOTS

HOTS (Higher Order Thinking Skills) bukan sekadar tren dalam evaluasi pendidikan, melainkan kebutuhan esensial untuk melatih daya nalar kritis siswa. Namun, dalam praktiknya, mengembangkan instrumen penilaian yang benar-benar mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah tugas yang sederhana. Banyak instrumen yang diniatkan sebagai soal HOTS justru gagal memicu proses kognitif tingkat tinggi dan hanya berhenti pada tingkat hafalan atau pemahaman dasar.

Berikut adalah lima kesalahan fundamental yang kerap terjadi saat menyusun soal HOTS beserta cara menghindarinya.

1. Menyamakan "Sulit" dengan "HOTS"

Kesalahan paling umum adalah mengasumsikan bahwa soal yang sulit pasti merupakan soal HOTS. Tingkat kesulitan (difficulty level) dan tingkat kognitif (cognitive level) adalah dua dimensi yang berbeda. Sebuah soal matematika dengan rumus kompleks dan hitungan desimal yang berderet mungkin sangat sulit dikerjakan, tetapi jika siswa hanya perlu memasukkan angka tersebut ke dalam rumus baku yang sudah dihafalkan, itu hanyalah soal LOTS (Lower Order Thinking Skills). Soal HOTS tidak selalu menuntut perhitungan rumit; intinya terletak pada kompleksitas logika, evaluasi informasi, dan kemampuan memecahkan masalah kontekstual.

2. Terjebak pada Kata Kerja Operasional (KKO) yang Semu

Banyak panduan pembuatan instrumen mengandalkan Taksonomi Bloom dengan mendaftar KKO seperti "Menganalisis", "Mengevaluasi", atau "Mencipta". Sayangnya, penggunaan KKO ini sering kali sekadar tempelan. Misalnya, sebuah soal diawali dengan kalimat, "Analisislah pengertian dari..." Padahal, menanyakan definisi murni menguji kemampuan mengingat (C1). KKO tingkat tinggi harus selaras dengan tuntutan kognitifnya, misalnya meminta siswa menganalisis penyebab anomali data eksperimen pada suatu studi kasus riil.

3. Menyajikan Stimulus yang Hanya Menjadi "Pajangan"

Ciri khas soal HOTS adalah hadirnya stimulus, baik berupa narasi, tabel, grafik, maupun infografis. Kesalahan fatal terjadi ketika stimulus kompleks disajikan, namun siswa ternyata dapat langsung menjawab soal dengan mengabaikan stimulus tersebut. Stimulus yang baik wajib menjadi syarat mutlak untuk menemukan jawaban. Sebagai contoh, jika Anda menyajikan grafik laju fermentasi bioteknologi pada pembuatan Tepache nanas, maka pertanyaan yang diajukan harus benar-benar menuntut ekstraksi dan interpretasi pola dari grafik tersebut, bukan pertanyaan teoretis umum yang bisa dijawab hanya bermodal buku paket.

4. Pengecoh (Distractor) yang Tidak Berbasis Miskonsepsi

Dalam format pilihan ganda, terutama jika instrumen ditargetkan untuk kerangka Computerized Adaptive Testing (CAT) yang sensitif terhadap parameter butir soal, kualitas pengecoh memegang peranan krusial. Sangat sering opsi jawaban yang salah dibuat secara asal-asalan. Pengecoh yang efektif dalam penilaian HOTS harus direkayasa berdasarkan pola kesalahan penalaran atau miskonsepsi yang umum terjadi pada siswa. Dengan demikian, ketika siswa memilih opsi yang salah, opsi tersebut mampu mendiagnosis di mana letak patahan logika mereka.

5. Menggunakan Konteks Tanpa Novelty (Kebaruan)

HOTS menuntut siswa melakukan transfer of knowledge ke dalam situasi yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Jika kasus yang disajikan sama persis dengan contoh yang diulang-ulang di kelas, maka proses kognitif yang bekerja hanyalah recall (memanggil memori). Untuk menciptakan novelty, integrasikan fenomena otentik di luar buku teks. Alih-alih menggunakan contoh usang pada materi sistem imun, cobalah merancang stimulus berbasis kearifan lokal Ibu Kota Jakarta, seperti analisis pengaruh senyawa aktif pada Bir Pletok terhadap performa imunomodulator. Konteks etnosains semacam ini memaksa siswa untuk membongkar ulang pemahaman mereka dan berpikir kritis di luar rutinitas hafalan.

Catatan Penutup Merancang instrumen evaluasi HOTS adalah proses yang iteratif. Selain menajamkan konstruksi stimulus dan logika pengecoh, melakukan validasi empiris pada butir soal yang telah disusun sangatlah direkomendasikan. Mengevaluasi parameter instrumen secara kuantitatif, menggunakan perangkat lunak analisis statistika modern seperti JASP untuk mengukur validitas, reliabilitas, dan daya beda, akan memastikan bahwa instrumen yang Anda kembangkan benar-benar presisi dalam mengukur struktur berpikir siswa.

Daftar Pustaka

  • Brookhart, S. M. (2023). How to assess higher-order thinking skills in your classroom (2nd ed.). ASCD.

  • Halpern, D. F., & Dunn, D. S. (2023). Thought and knowledge: An introduction to critical thinking (6th ed.). Routledge.

  • Huang, L., & Wang, C. (2022). Unpacking the challenges of assessing higher-order thinking skills: A teacher's perspective. Educational Assessment, Evaluation and Accountability, 34(1), 55-78. https://doi.org/10.1007/s11092-021-09370-5

  • Leite, L., Dourado, L., & Morgado, S. (2024). Promoting higher-order thinking skills in science classrooms: Teachers' practices and challenges. International Journal of Science Education, 46(5), 789-809. https://doi.org/10.1080/09500693.2024.2312345

  • Susandi, A., Widyastuti, R., & Saleem, M. (2024). Navigating higher order thinking skills assessment: Challenges and pedagogical frameworks. Journal of Research in Science Teaching, 61(2), 345-360. https://doi.org/10.1002/tea.21890

  • Uslan, U., Ali, M., & Ahmad, S. (2024). Evaluating critical thinking and HOTS development in modern curricula. Educational Assessment, 29(3), 210-228. https://doi.org/10.1080/10627197.2023.2291012

  • Zhang, L., Li, X., & Wu, J. (2025). The role of authentic assessment in measuring higher-order thinking skills in science education. International Journal of Educational Research, 125, 102123. https://doi.org/10.1016/j.ijer.2024.102123

 

Hubungi Kami